Jumat, 28 November 2014



LAPORAN PRAKTIKUM
AGROKLIMATOLOGI
OLEH

NAMA                        : NISA IRLANDA
NO.BP                        : 1310211181
KELAS                       : D
NAMA ASISTEN      :  ANDRE RIANDA
PENJAB                     : Prof. Dr Ir Istino ferita Sp


PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2014

KATA PENGANTAR
          Puji syukur penulis ucapkan kepada ALLAH SWT, karna berkat rahmad dan karuniaNYA lah penulis dapat menyelesaikan laporan agroklimatologi ini, penulis mengucapkan banyak banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian laporan praktikum ini.
            Terimakasih penulis ucapkan kepada assisten yang telah memberikan waktu kepada penulis untuk menyelesaikan laporan praktikum ini.





   Tertanda
    Penulis

(Nisa Irlanda)





DAFR ISI

Kata pengantar                                                                                                            2
Daftar isi                                                                                                                     3
Daftar gambar                                                                                                             4
Bab I  PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang                                                                                          5
1.2   Tujuan                                                                                                      7
Bab II TINJAUAN PUSTAKA
            2.1 Curah Hujan                                                                                              8
            2.2 Alat - Alat BMKG                                                                                    12
Bab III BAHAN DAN METODE                                                                             16
Bab IV HASIL DAN PEMBAHASAN
            4.1 Hasil                                                                                                          17
            4.2 Pembahasan                                                                                              20
Bab V PENUTUP
            5.1Kesimpulan                                                                                                23
            5.2 Saran                                                                                                         23
Daftar pustaka                                                                                                                        24
Lampiran

DAFTAR GAMBAR
A.     Penakar Hujan Observatorium Dan Penakar Hujan Hellman
B.     chambels tub
C.     sikrometer (sangkar meteorology )
D.     termometer tanah berumput & thermometer tanah gundul
E.      lisimeter
F.      AAWS (automatic agroclimat water station)
G.    Anemometer
H.    Aktinograf
I.       Panci klas A, micrometer pancing (hook gauge)













BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG
Manusia hidup di Bumi pasti tidak akan terpisah dengan lingkungan. Dalam lingkungan itu sendiri terdapat unsur yang penting yaitu iklimatau cuaca. Dikatakan iklim jika terbentuk dalam jangka waktu yang panjang dan dikatakan cuaca jika terbentuk dalam jangka waktu yang singkat.
Pada setipa tempat tentunya memiliki iklim atau cuaca yang berbeda tergantung dengan tofografi dan sebagainya. Kita bisa merasakan keadaan udara sekitar hanya dengan menggunakan indera. Tapi yang dirasakan oleh indera adalah sangat subjektif. Karena seseorang dapat merasakan keadaan udara pada suatu saat adalah panas sekali akan tetapi orang lain hanya merasakan panas biasa saja. Untuk menghilangkan subjektivitas ini kemudian digunakan alat-alat pengamatan. Tonggak pertama dalam perkembangan pertanian meteorologi adalah ketika Galileo menemukan termometer (1593) dan Toricelli menemukan barometer (1643). Tetapi penyempurnaan peralatan tersebut harus dilakukan baik dalam prinsip dn meknismenya maupun ketelitian alat-alat pengamat komponen cuaca.
Kekeliruan yang sering dilakukan manusia bisa menyebabkan data yang dikumpulkan menjadi tidak valid, sehingga dengan perkembangan teknologi akhirnya diciptakanlah stasiun cuaca otomatis (AWS). Ini dapat memudahkan bagi lembaga masyarakat, instansi pemerinta maupun swasta terkait dalam melakukan kegiatan pengamatan cuaca. Akan tetapi harganya yang masih relatif mahal membuat kalangan tertentu manjadi sulit untuk memperolehnya. Oleh karena itu stasiun cuaca otomatis yang murah, akurat dan mudah dioperasikan menjadi pilihan dimasa-masa sekarang ini.
Hujan merupakan satu bentuk presipitasi yang berwujud cairan. Presipitasi sendiri dapat berwujud padat (misalnya salju dan hujan es) atau aerosol seperti embun dan kabut). Hujan terbentuk apabila titik air yang terpisah jatuh ke bumi dari awan. Tidak semua air hujan sampai ke permukaan bumi karena sebagian menguap ketika jatuh melalui udara kering. Hujan jenis ini disebut virga.
            Hujan memainkan peran penting dalam siklus hidrologi. Lembaban dari laut mnguap, berubah menjadi awan, terkumpul menjadi awan mendung, lalu turun kembali ke bumi, dan akhirnya kambali ke laut melalui sungai untuk menanggulangi daur ulang itu semua.
            Jumlah air hujan di ukur menggunakan pengukur hujan atau omborometer. Ia dinyatakan sebagai kedalaman air yang terkumpul pada permukaan datar, dan diukur kurang lebih 0,25mm. Satuan curah hujan menurt SI adalah millimeter, yang merupakan penyingkatan dari liter per meter persegi.
            Air hujan sering digambarkan sebagai berbentuk “lonjong”, lebar di bawah dan menciut di atas, tetapi ini tidaklah tepat. Air hujan kecil hampi bulat. Air hujan yang besar menjadi semakin leper, seperti roti hamburger; air hujan yang lebih besar berbentuk payung terjun. Air hujan yang besar jatuh lebih cepat di banding air hujan yang lebih kecil.
            Biasanya hujan memiliki kadar asam pH 6. Airhujan dengan pH di bawah 5,6 dianggap hujan asam. Banyak orang yang menganggap bahwa bau yang tercium pada saat hujan dianggap wangi atau menyenangkan. Sumber dari bau ini adalah petrichor, minyak atsiri yang di produksi oleh tumbuhan, kemudian diserap oleh batuan dan tanah, dan kemudian di lepas ke udara pada saat hujan.
            Jenis-jenis hujan berdasarkan terjadinya: hujan siklonal, yaitu hujan yang terjadi kerena udara panas yang naik disetai dengan angin berputar. Hujan zenihal, yaitu hujan yang sering terjadi di daerah sekitar ekuator akibat pertemuan angin pasat timur laut dengan air pasat tenggara. Kemudian angin tersebut naik dan membentuk gumpalan-gumpalan awan di sekitar ekuator yang berakibat awan menjadi jenuh dan turunlah hujan. Hujan orografis, yaitu hujan yang terjadi keren angin yang menagandung uap air bergerak horizontal. Angin tersebut naik menuju pegunungan, suhu udara menjadi dingin sehingga terjadi kondensasi. Terjadilah hujan di sekitar pegunungan. Hujan frontal, yaitu hujan yang terjadi apabila massa udara yang dingin bertemu dengan massa udara yang panas. Tempat pertemuan antara kedua massa itu disebut sebagai bidang front karena lebih berat massa udara dingin lebih berada dibawah. Di sekitar bidang front inilah sering terjadi hujan lebat yang disebut hujan frontal.hujan muson atau hujan musiman, yaitu hujan yang terjai karena angun musim (angin muson). Penyebab terjadinya angin muson adalah karena adanya pergerakan semu tahunan matahari antara garis balik utara dan garis balik selatan. Di Indonesia, hujan muson terjadi bulan oktober sampai april. Sementara di kawasan asia timur terjadi bulan mei sampai agustus. Siklus muson inilah yang menyebabkan adanya musim penghujan dan musim kemarau.
            Jenis-jenis hujan berdasarkan ukuran butirnya: huajn gerimis/drizzle, diameter butirannya kurang dari 0,5mm. Hujan salju terdiri dari Kristal-kristal es yang suhunya berada dibawah 0o celsisus. Hujan batu es, curahan batu es yang turun dalam cuaca panas dari awan yang suhunya dibawah 0o celsisus. Hujan deras/rain,curahan air yang turun dari awan dengan suhu diatas 0o celsisus dengan diemeter 7mm.

1.2  Tujuan
Tujuan dari praktium ini adalah untuk mengetahui curah hujan di suatu daerah dan mengetahui cara penggunaan alat pengukur curah hujan.






BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Curah Hujan
Hidrologi adalah ilmu yang berkaitan dengan air di bumi, terjadinya peredaran dan agihannya, sifat-sifat kimia dan fisiknya, dan reaksi dengan lingkungannya, termasuk hubungannya dengan makhluk hidup (internatial Glossary of hidrology, 1974) (EsinSeyhan,1990).
 Karena perkembangan yang ada maka ilmu hidrologi telah berkembang menjadi ilmu yang mempelajari siklus air. Jadi dapat dikatakan, hidrologi adalah ilmu yang mempelajari: presipitsai (precipitation), evaporasi (evaporation), aliran permukaan (surface stream flow), dan air tanah (groun water) (EsinSeyhan,1990).
Pada prisipnya, jumlah air di alam ini tetap dan mengikuti suatu aliran yang dinamakan “siklus hidrologi”. Siklus hidrologi adalah suatu proses yang berkaitan, dimana air diangkut dari lautan ke atmosfer (udara), ke darat dan kembali lagi ke laut.
Hujan jatuh ke bumi baik langsung maupun melalui media misalnya ,elalui tanaman (vegetasi). Di bumi air mengalir dan bergerak dengan berbagai cara. Pada retensi (tempat penyimpanan) air akan menetap untuk beberapa waktu. Retensi dapat berupa retensi alam seperti daerah-daerah cekungan,danau tempat-tempat yang rendah,dll. Maupun retensi buatan seperti tampungan, sumur, embung, waduk,dll (Anonim,2011).
Secara gravitasi (alami) air mengalir dari daerah yang tinggi ke daerah yang rendah, sampai ke daerah pantai dan akhirnya akan bermuara ke laut.aliran ini disebut aliran permukaan tanah karena bergerak di atas permukaan tanah. Aliran ini biasanya akan memasuki daerah tangkapan atau daerah aliran menuju ke system jaringan sungai, system danau atau waduk. Dalam sistem sungai aliran mengalir mulai dari sistem sungai kecik ke system sungai besar dan akhirnya menuju mulut sungai atau sering disebut estuary yaitu tempat bertemunya sungai dengan laut. (Anonim,2011)
Air hujan sebagian meresap ke dalam kedalam tanah atau yang sering disebut dengan infiltrasi, dan bergerak terus kebawah. Air hujan yang jatuh ke bumi sebagian menguap (evaporasi dan transpirasi) dan membentuk uap air. Sebagian lagi mengalir masuk kedalam tanah (infiltrasi, perkolasi, kapiler). Air tanah adalah air yang bergerak didalam tanah yang terdapat didalam ruang-ruang antara butir-butir tanah dan di dalam retak-retak dari batuan. Dahulu disebut air lapisan dan yang terakhir disebut air celah (fissure water). Aliran air tanah dapat dibedakan menjadi aliran tanah dangkal, aliran tanah antara dan aliran dasar (base flow). Disebut aliran dasar karena aliran ini merupakan aliran yang mengisi system jaringan sungai. Hal ini dapat dilihat pada musim kemarau, ketika hujan tidak turun untuk beberapa waktu, pada suatu system sungai tertentu aliran masih tetap dan kontinyu. Sebagian air yang tersimpan sebagai air tanah (groundwater) yang akan keluar ke permukaan tanah sebagai limpasan permukaan (surface runoff) yang terkumpul di sungai yang akhirnya akan mengalir ke laut kembali terjadi penguapan dan begitu seterusnya mengikuti siklus hidrologi. (Anonim,2011)
Penyimpanan air tanah besarnya tergantung dari kondisi geologi setempat dan waktu. Kondisi tata guna lahan juga berpengaruh terhadap tampungan air tanah, misalnya lahan hutan yang beralih fungsi menjadi daerah pemukiman dan curah hujan daerah tersebut. Sebagai permulaan dari simulasi herus ditentukan penyimpangan awal (initial storage).
Hujan jatuh ke bumi baik secara langsung maupun melalui media misalnya melalui tanaman (vegetasi), masuk ke tanah begitu juga hujan yang terinfiltrasi. Sedangkan air yang tidak terinfiltrasi yang merupakan limpasan mengalir ke tempat yang lebih rendah, mengalir ke danau dan tertampung. Dan hujan yang langsung jatuh di atas sebuah danau (reservoir) air hujan (presipitasi) yang langsung jatuh di atas danau menjadi tampungan langsung. Air yang tertahan di danau akan mengalir melalui system jaringan sungai, permukaan tanah (akibat debit banjir) dan merembes melalui tanah. Dalam hal ini air yang tertampung di danau adalah inflow sedangkan yang mengalir atau merembes adalah outflow.
Kebutuhan air tanaman (crop water requirement) didefinisikan sebagai banyaknya air yang hilang dari areal pertanaman setiap satuan luas dan satuan waktu, yang digunakan untuk pertumbuhan, perkembangan (transpirasi) dan dievaporasikan dari permukaan tanah dan tanaman. Kebutuhan air tanaman adalah transporasi. Evapotranspirasi dipengaruhi oleh kadar kelembaban tanah, suhu udara, cahaya matahari, dan angin. Evapotranspirasi dapat ditentukan dengan cara, yaitu (1) menghitung jumlah air yang hilang dari tanah dalam jangka waktu tertentu, (2) menggunakan factor-faktor iklim yang mempengaruhi evapotranspirasi, (3) menggunakan Iysimeter (Hasan Basri Jumin, 2002).
Kedua alat penakar hujan otomatis diletakkan pada tempat terbuka. Jarak antara penakar hujan 150 meter dari tempat penelitian. Kedua tipping bucket berada pada ketinggian 15 meter dari permukaan tanah. Tipping bucket dihubungkan dengan sebuah data logger (Delta-T Devices Ltd.,Cambridge,UK) dengan interval 5 menit untuk mendapatkan data secara terus menerus. Sebuah corong dan jerigen berukuran 65 Liter ditempatkan pada daerah yang terbuka, dengan ketinggian 1 meter diatas permukaan tanah, dan bersudut tidak lebih dari 45 derajat dari tajuk pada plot penelitian. Untuk setiap kejadian hujan, pencatatan dilakukan setiap hari dari pukul 08.00 pagi hingga selesai. Apabila pada pukul tersebut masih terjadi hujan, maka pencatatan dilakukan setelah hujan benar-benar berhenti (Anonim, 2010)
             Pada alat penakar manual,  untuk mendapatkan data curah hujan dalam satuan milimeter, dilakukan perhitungan dengan menggunakan persamaan curah hujan kotor (Pg). Intersepsi diperkirakan dari hasil pengukuran hujan di tempat yang terbuka ( Gross Presipitation / Pg ), Air lolos ( Troughfall / Tf ), dan Aliran Batang ( Steamflow / Sf ). Selisih antara curah hujan di tempat terbuka, air lolos, dan aliran batang merupakan besaran intersepsi hujan ( Ic ). Pemilihan vegetasi yang digunakan untuk mengukur aliran batang pada plot penelitian berdasarkan kelas diameter batang pohon. Pemilihan tersebut berdasarkan diameter pohon diatas 10 cm (Anonim, 2008)
            Curah hujan yaitu jumlah air hujan yang turun pada suatu daerah dalam waktu tertentu. Alat untuk mengukur banyaknya curah hujan disebut Rain gauge. Curah hujan diukur dad lam harian, bulanan, dan tahunan. Curah hujan yang jatuh di wilayah Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain adalah bentuk medan/topografi, arah lereng medan, arah angin yang sejajar dengan garis pantai dan jarak perjalanan angina diatas medan datar. Hujan merupakan peristiwa sampainya air dalam bentuk cair maupun padat yang dicurahkan dari atmosfer ke permukaan bumi (Handoko, 2003).
Hujan yang jatuh ke bumi baik langsung menjadi aliran maupun tidak langsung yaitu melalui vegetasi atau media lainnya akan membentuk siklus aliran air mulai dari tempat tinggi (gunung, pegunungan) menuju ke tempat yang rendah baik di permukaan tanah maupun di dalam tanah yang berakhir di laut (Anonim,2011).
Peranan air dalam kehidupan sngat besar. Mekanisme kompleks kehidupan tidak mungkin berfungsi tanpa kehadiran air. Bagian terbesar bumi dan makhluk hidup juga terdiri air. Air yang berasal dari hujan merpakan fenomena alam yang paling penting bagi terjadinya kehidupan di bumi. Butiran hujan selain membawa molekul air juga membawa materi yang penting bagi kehidupan seperti pupuk bagi tumbuhan. Mesikpun air hujan sangat penting bagi kehidupan. Namun, di pihak lain Indonesia belum mampu mengamati fenomena banyaknya curah hujan yang terjadi pada suatu tempat secara otomatis dan tercatat pada database. Akibatnya data curah hujan tidak dapat di manfaatkan. (Anonim,2011)

a. Sifat Hujan
            Sifat hujan adalah perbandingan antara jumlah curah hujan yang terjadi selama satu bulan dengan nilai rata-rata atau normal dari bulan tersebut di suatu tempat. Sifat hujan dibagi menjadi 3 kriteria, yaitu:
1.      Atas normal (A)
     Jika nilai perbandingan terhadap rata-rata lebih besar dari 115%.
2.      Normal (N)
                Jika nilai perbandingan terhadap rata-rata antara 85%-115%.
3.      Bawah normal (BN)
                Jika nilai perbandingan terhadap rata-rata kurang dari 85%.(Anonim,2011)

b. Normal curah hujan
                  1.     Rata-rata Curah Hujan Bulanan
Rata-rata Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-     masing bulan dengan periode minimal 10 tahun.
                 
                  2.    Normal Curah Hujan Bulanan
Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-         masing bulan selama periode 30 tahun.

                  3.    Standar Normal Curah Hujan Bulanan
Standar Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan  pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun, dimulai dari tahun 1901 s/d 1930, 1931 s/d 1960, 1961 s/d 1990 dan seterusnya.
Curah hujan di hitung harian, mingguan, hingga tahunan, sesuai dengan kebuuhan. Pembangunan saluran drainase, selokan, irigasi, serta pengendalian banjir selalu menggunakan data curah hujan ini, untuk mengetahui berapa jumlah hujan yang pernah terjadi di suau tempat, sebagai perkiraan pembuatan besarnya saluran atau sarana pendukung lainnya saat hujan sebesar itu akan datang lagi dimasa mendatang(Bocah,2008).
Alat pengukur curah hujan merupakan alat untuk mengukur curah hujan yang terjadi pada suatu daerah baik pedesaan, kecamatan, atau provinsi mengacu pada WMO (World Meterological Organization). Dengan adanya alat pengukur curah hujan dapat diketahui banyaknya curah hujan yang terjadi setiap waktu. Data curah hujan dihasilkan otomatis dari alat pengukur curah hujan disimpan secara real-time dengan menggunakan aplikasi berbasis open-source seperti java dan system operasi IGOS (Edi Tanoe,2011)
2.2 Alat- Alat BMKG

            2.2.1 Penakar Hujan Observatorium Dan Penakar Hujan Hellman
            Penakar huajn Observatorium mempunyai corong dengan luas tamping 100 cm2. Pada corong dipasang ring yang tepinya dibuat seruncing mungkin dengan maksud untuk mendapatkan luas bidang tamping setepat mungkin. Air hujan masuk ke selinder penampung air hujan melalui corong dengan sudut berbanding curam lebih kurang 300, maksudnya adalah untuk menghindari percikan air keluar. Bagian ujung corong disambung dengan pipa tembaga berukuran ¼ dengan panjang lebih kurang 7 cm untuk menghindari terjadinya penguapan. Air dikeluarkan melalui kran yang dihubungkan dengan pipa kesilinder penampung air hujan.
            Penakar hujan hellman mempunyai luas bidang corong penampung curah hujan 200 cm2 . Air hujan masuk ke reservouir yang dihubungkan dengan pipa. Didalam reservoir ditempatkan pelampung, pada saat air masuk kedalam reservoir, pelampung akan terangkat dan pada pelampung dipasang tangkai pena yang mencatat pada kertas pias yang ditempelkan pada silinder yang diputar oleh jam. Bekerjanya penakar hujan ini apabila air yang tertampung dalam reservoir telah mencapai setara dengan tinggi curah hujan 10 mm, maka air dalam reservoir akan tumpah secara otomatis melalui pipa pindah (sifon) dipasang pada reservoir dan pena akan kembali lagi ke angka nol. Air yang tumpah melaui pipa sifon ditampung dalam sebuah bejana , untuk selanjutnya ditakar kembali sebagai penteraan apakah yang tercatat pada pias sama dengan yang ditajar dengan gelas ukur khusus hellman.
           
2.2.2 chambels tub
Chambels tub merupakan alat yang di gunakan oleh para pengamat cuaca sebagai alat pengukur lamanya cahaya matahari di suatu lkasi yang ingin di telitinya. Penggunaan alat ini yaitu dengan menghitung lamanya penyinaran matahari dari pukul 08.00 pagi sampai sampai pukul 4 sore,namun itu dapat brubah tergantung lamanya penyinaran di lokasi tersebut.
            2.2.3 sikrometer (sangkar meteorology )
Sikrometer merupakan alat yang di gunakan pengamat cuaca sebagai pengukur kelembapan cahaya yang berfungsi mengukukur suhu kelembapan cahaya, prinsip kerja dari sikromeer yaitu dengan ventilasi yang di cat putih yang bertujuan untuk sirkulasi udara agar dapat berjalan baik dan pengukuran ini di baca setiap jam 10 pagi dan malam.
            2.2.4 termometer tanah berumput dan thermometer tanah gundul
Thermometer ini di gunakan oleh para pengamat cuaca untuk mengukur suhu tanah pada kedalaman tertentu, thermometer ini ada yang di letakkan di tanah yang tertutup rumput dan ada yang di letakkan di tana yang gundul. Cara membaca alat ini dengan melihat lapisan lilin yang ada di dalam alat, lapisan ini berfungsi untuk mempermudah pembacaaan hasil pengukuran.
            2.2.5 lisimeter
Lisimeter merupakan alat yang di gunakan oleh pengamat cuaca untuk mengukur penguapan dalam tanah, lisimeter di amati setiap jam 5 sore dengan cara di sedot kemudian disiram lagi sebanyak 10 liter lalu dilihat berapa air yang tertinggal untuk mengukur penguapan.
            2.2.6 AAWS (automatic agroclimat water station)
AAWS merupakan alat yang di gunakan untuk mengetahui semua data pengukuran arah kecepatan angin , alat ini biasanya di gunakan pada lama data yang terekam tiap 5 menit atau 10 menit.
 2.2.7 Anemometer
            Pada umumnya angin diamati tenteng kecepatan dan arahnya. Anemometer terdiri dari tiga atau empat cawan yang dibuat berbentuk kerucut dihubungkan oleh lengan yang ditempelkan pada es. Pada umumnya anemometer dipasang pada tiang penyangga terbuat dari besi atau bahan sejenis lainnya yang terpasang kokoh dan tegak lurus. Alat ini dilengkapi dengan alat penghitung jumlah putaran (counter) yang telah dikalibrasi dalam satuan Km atau mil perjam (1 mil = 1,85 km/jam).
            2.2.8 aktinograf
Aktinograf merupakan alat yang di gunakan oleh para pengamat cuaca untuk mengukur intensitas cahaya matahar, pembacaan alat ini hanya di lakukan setiap sekali seminggu yaitu di hari senin pagi di ganti plasnya dan membaca mengikuti garis.
2.2.9 Panci klas A, micrometer pancing (hook gauge)

            Panci klas A berbentuk sebuah kancah yang berukuran garis tengah 120,7 cm dan tinggi bibir panci 25,4 cm. alat terbuat dari stainless. Dudukan panci harus betul-betul datar diatas tanah. Maka air didalam panci setelah pengukuran harus selalu 5 cm dibawah bibir panci. Evaporasi tidak dapat diukur dengan panci apabila turun hujan melebihi 50 mm.
            Untuk mengukur tinggi maka air dengan menggunakan micrometer yang bagian ujung nya dibuat seperti pancing untuk memudahkan menentukan batas muka air dalam panci. Micrometer ini ditaroh diatas tabung peredam dan tangkai pancing masuk kedalam air sedang ujung mata pancing berada tepat pada permukaan air. Skala mm dibaca pada batang micrometer dan skala seperseratus mm dibaca dari mur yang mengelilingi  batang micrometer.











BAB III
METODA KERJA
3.1 WAKTU DAN TEMPAT
            Praktikum lapangan agroklimatologi di adakan pada  hari sabtu tanggal 11 oktober di BMKG Sicincin, pada pukul 08.00 WIB sd 02.00 WIB
3.2 Alat dan bahan
            Pada praktikum  lapangan dalam rangka kunjungan ke BMKG sicincin telah di perlihatkan alat alat yang berhubungan dengan cara mengamati cuaca dan iklim yang terjadi baik di daerah sicincin saja ataupun mencakup Sumatra barat.
            alat-alat nya antara lain anemometer, aktinograf ,have sampler, gun belani, hellman, penangkar hujan biasa, chambels tub, sikrometer,thermometer tanah, lisimeter, dan AAWS
3.3 cara kerja
            Cara kerja pada alat alat tersebut akan di jelaskan pada bab IV














BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL
1.      HAVE SAMPLER
         
2.      CAHAMBELS TUB
          
3.      PENANGKAR HUJAN BIASA
     

4.      PENANGKAR HUJAN HILMAN
5.      TERMOMETER TANAH BERUMPUT
6.      SIKROMETER
          
7.      TERMOMETER TANAH GUNDUL
8.      AKTINOGRAF
    
9.      AAWS

    
  
  

4.2 Metoda Kerja Alat-Alat BMKG
            4.2.1 Penakar Hujan Observatorium Dan Penakar Hujan Hellman
            Air hujan masuk ke selinder penampung air hujan melalui corong dengan sudut berbanding curam lebih kurang 300, maksudnya adalah untuk menghindari percikan air keluar. Bagian ujung corong disambung dengan pipa tembaga berukuran ¼ dengan panjang lebih kurang 7 cm untuk menghindari terjadinya penguapan. Air dikeluarkan melalui kran yang dihubungkan dengan pipa kesilinder penampung air hujan. Air hujan masuk ke reservouir yang dihubungkan dengan pipa. Didalam reservoir ditempatkan pelampung, pada saat air masuk kedalam reservoir, pelampung akan terangkat dan pada pelampung dipasang tangkai pena yang mencatat pada kertas pias yang ditempelkan pada silinder yang diputar oleh jam. Bekerjanya penakar hujan ini apabila air yang tertampung dalam reservoir telah mencapai setara dengan tinggi curah hujan 10 mm, maka air dalam reservoir akan tumpah secara otomatis melalui pipa pindah (sifon) dipasang pada reservoir dan pena akan kembali lagi ke angka nol. Air yang tumpah melaui pipa sifon ditampung dalam sebuah bejana , untuk selanjutnya ditakar kembali sebagai penteraan apakah yang tercatat pada pias sama dengan yang ditajar dengan gelas ukur khusus hellman.
4.2.2 chambels tub
Penggunaan alat ini yaitu dengan menghitung lamanya penyinaran matahari dari pukul 08.00 pagi sampai sampai pukul 4 sore,namun itu dapat brubah tergantung lamanya penyinaran di lokasi tersebut.
            4.2.3 sikrometer (sangkar meteorology )
Prinsip kerja dari sikromeer yaitu dengan ventilasi yang di cat putih yang bertujuan untuk sirkulasi udara agar dapat berjalan baik dan pengukuran ini di baca setiap jam 10 pagi dan malam.
            4.2.4 termometer tanah berumput dan thermometer tanah gundul
Cara membaca alat ini dengan melihat lapisan lilin yang ada di dalam alat, lapisan ini berfungsi untuk mempermudah pembacaaan hasil pengukuran.
            4.2.5 lisimeter
Lisimeter di amati setiap jam 5 sore dengan cara di sedot kemudian disiram lagi sebanyak 10 liter lalu dilihat berapa air yang tertinggal untuk mengukur penguapan.
            4.2.6 AAWS (automatic agroclimat water station)
Alat ini biasanya di gunakan pada lama data yang terekam tiap 5 menit atau 10 menit.
 4.2.7 Anemometer
            Pada umumnya anemometer dipasang pada tiang penyangga terbuat dari besi atau bahan sejenis lainnya yang terpasang kokoh dan tegak lurus. Alat ini dilengkapi dengan alat penghitung jumlah putaran (counter) yang telah dikalibrasi dalam satuan Km atau mil perjam (1 mil = 1,85 km/jam).
            4.2.8 aktinograf
pembacaan alat ini hanya di lakukan setiap sekali seminggu yaitu di hari senin pagi di ganti plasnya dan membaca mengikuti garis.
4.2.9 Panci klas A, micrometer pancing (hook gauge)

            Dudukan panci harus betul-betul datar diatas tanah. Maka air didalam panci setelah pengukuran harus selalu 5 cm dibawah bibir panci. Evaporasi tidak dapat diukur dengan panci apabila turun hujan melebihi 50 mm.
            Micrometer ini ditaroh diatas tabung peredam dan tangkai pancing masuk kedalam air sedang ujung mata pancing berada tepat pada permukaan air. Skala mm dibaca pada batang micrometer dan skala seperseratus mm dibaca dari mur yang mengelilingi  batang micrometer.




























BAB IV
PENUTUP

5.1 KESIMPULAN
            Pada praktikum kali ini dapat di simpulkan bahwa cara mengetahui cuaca dan iklim pada suatu daerah mempunyai alat yang berbeda beda baik fungsi, bentuk dan cara kerjanya. Data yang dihasilkan pun keakuratannya berbanding lurus dengan tingkat keseriusan pengamat, apabila pengamat membuat data dengan teliti maka kemungkinan besar data akan akurat.

5.2 SARAN
            Pada praktikum lapangan ke BMKG sicincin ini di harapkan kepada praktikan agar dapat serius dalam mendengarkan penjelasan dari narasumber dan dapat menyerap informasi yang di berikan oleh narasumber sehingga dapat memahami cara kerja dan fungsi dari alat alat tersebut sesuai dengan penjelasan dari narasumber.











DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2008. . Cuaca Iklim, www.wikipedia/cuacaiklim.menlh.co.id.
Diakses    pada  tanggal 28 oktober 2014.

Anonim, 2010. Curah Hujan , www.wikipedia/hujan.menlh.go.id. Diakses pada
            tanggal 28 oktober 2014.

Anonim,2011. Curah Hujan , www.wikipedia/hujan.menlh.go.id. Diakses pada
            tanggal 28 oktober 2014

Bocah,2008. Curah hujan local. UGM press: yogyakarta
Edi Tanoe,2011. Alat pengukur hujan. Laporan klimatologi dasar. Bogor
:FMIPA-IPB
EsinSeyhan,1990. Hidrologi Teknik. Jakarta: Erlangga.
Handoko, 2003. Klimatologi Dasar, Bogor: FMIPA-IPB
Jumin ,Hasan Basri, 2002. Dasar-Dasar Agronomi, Jakarta: PT. Rajagrafindo.