LAPORAN PRAKTIKUM
AGROKLIMATOLOGI
OLEH
NAMA : NISA IRLANDA
NO.BP
: 1310211181
KELAS
: D
NAMA
ASISTEN : ANDRE RIANDA
PENJAB
: Prof. Dr Ir Istino
ferita Sp
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2014
KATA PENGANTAR
Puji
syukur penulis ucapkan kepada ALLAH SWT, karna berkat rahmad dan karuniaNYA lah
penulis dapat menyelesaikan laporan agroklimatologi ini, penulis mengucapkan
banyak banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyelesaian laporan praktikum ini.
Terimakasih penulis ucapkan kepada
assisten yang telah memberikan waktu kepada penulis untuk menyelesaikan laporan
praktikum ini.
Tertanda
Penulis
(Nisa Irlanda)
DAFR ISI
Kata pengantar 2
Daftar isi 3
Daftar gambar 4
Bab I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang 5
1.2 Tujuan 7
Bab II TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Curah Hujan 8
2.2
Alat - Alat BMKG 12
Bab III BAHAN DAN METODE 16
Bab IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Hasil 17
4.2
Pembahasan 20
Bab V PENUTUP
5.1Kesimpulan 23
5.2
Saran 23
Daftar pustaka 24
Lampiran
DAFTAR GAMBAR
A. Penakar
Hujan Observatorium Dan Penakar Hujan Hellman
B. chambels tub
C. sikrometer (sangkar meteorology )
D. termometer tanah berumput &
thermometer tanah gundul
E. lisimeter
F. AAWS (automatic agroclimat water
station)
G.
Anemometer
H.
Aktinograf
I.
Panci klas A,
micrometer pancing (hook gauge)
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Manusia hidup di Bumi pasti tidak akan
terpisah dengan lingkungan. Dalam lingkungan itu sendiri terdapat unsur yang
penting yaitu iklimatau cuaca. Dikatakan iklim jika terbentuk dalam jangka
waktu yang panjang dan dikatakan cuaca jika terbentuk dalam jangka waktu yang
singkat.
Pada setipa tempat tentunya memiliki
iklim atau cuaca yang berbeda tergantung dengan tofografi dan sebagainya. Kita
bisa merasakan keadaan udara sekitar hanya dengan menggunakan indera. Tapi yang
dirasakan oleh indera adalah sangat subjektif. Karena seseorang dapat merasakan
keadaan udara pada suatu saat adalah panas sekali akan tetapi orang lain hanya
merasakan panas biasa saja. Untuk menghilangkan subjektivitas ini kemudian
digunakan alat-alat pengamatan. Tonggak pertama dalam perkembangan pertanian
meteorologi adalah ketika Galileo menemukan termometer (1593) dan Toricelli
menemukan barometer (1643). Tetapi penyempurnaan peralatan tersebut harus
dilakukan baik dalam prinsip dn meknismenya maupun ketelitian alat-alat
pengamat komponen cuaca.
Kekeliruan yang sering dilakukan manusia
bisa menyebabkan data yang dikumpulkan menjadi tidak valid, sehingga dengan
perkembangan teknologi akhirnya diciptakanlah stasiun cuaca otomatis (AWS). Ini
dapat memudahkan bagi lembaga masyarakat, instansi pemerinta maupun swasta
terkait dalam melakukan kegiatan pengamatan cuaca. Akan tetapi harganya yang
masih relatif mahal membuat kalangan tertentu manjadi sulit untuk
memperolehnya. Oleh karena itu stasiun cuaca otomatis yang murah, akurat dan
mudah dioperasikan menjadi pilihan dimasa-masa sekarang ini.
Hujan merupakan satu
bentuk presipitasi yang berwujud cairan. Presipitasi sendiri dapat berwujud
padat (misalnya salju dan hujan es) atau aerosol seperti embun dan kabut).
Hujan terbentuk apabila titik air yang terpisah jatuh ke bumi dari awan. Tidak
semua air hujan sampai ke permukaan bumi karena sebagian menguap ketika jatuh
melalui udara kering. Hujan jenis ini disebut virga.
Hujan memainkan peran penting dalam siklus hidrologi. Lembaban dari laut
mnguap, berubah menjadi awan, terkumpul menjadi awan mendung, lalu turun
kembali ke bumi, dan akhirnya kambali ke laut melalui sungai untuk
menanggulangi daur ulang itu semua.
Jumlah air hujan di ukur menggunakan pengukur hujan atau omborometer. Ia
dinyatakan sebagai kedalaman air yang terkumpul pada permukaan datar, dan
diukur kurang lebih 0,25mm. Satuan curah hujan menurt SI adalah millimeter,
yang merupakan penyingkatan dari liter per meter persegi.
Air hujan sering digambarkan sebagai berbentuk “lonjong”, lebar di bawah dan
menciut di atas, tetapi ini tidaklah tepat. Air hujan kecil hampi bulat. Air
hujan yang besar menjadi semakin leper, seperti roti hamburger; air hujan yang
lebih besar berbentuk payung terjun. Air hujan yang besar jatuh lebih cepat di
banding air hujan yang lebih kecil.
Biasanya hujan memiliki kadar asam pH 6. Airhujan dengan pH di bawah 5,6
dianggap hujan asam. Banyak orang yang menganggap bahwa bau yang tercium pada
saat hujan dianggap wangi atau menyenangkan. Sumber dari bau ini adalah
petrichor, minyak atsiri yang di produksi oleh tumbuhan, kemudian diserap oleh
batuan dan tanah, dan kemudian di lepas ke udara pada saat hujan.
Jenis-jenis hujan berdasarkan terjadinya: hujan siklonal, yaitu hujan yang
terjadi kerena udara panas yang naik disetai dengan angin berputar. Hujan
zenihal, yaitu hujan yang sering terjadi di daerah sekitar ekuator akibat
pertemuan angin pasat timur laut dengan air pasat tenggara. Kemudian angin
tersebut naik dan membentuk gumpalan-gumpalan awan di sekitar ekuator yang
berakibat awan menjadi jenuh dan turunlah hujan. Hujan orografis, yaitu hujan
yang terjadi keren angin yang menagandung uap air bergerak horizontal. Angin
tersebut naik menuju pegunungan, suhu udara menjadi dingin sehingga terjadi
kondensasi. Terjadilah hujan di sekitar pegunungan. Hujan frontal, yaitu hujan
yang terjadi apabila massa udara yang dingin bertemu dengan massa udara yang
panas. Tempat pertemuan antara kedua massa itu disebut sebagai bidang front
karena lebih berat massa udara dingin lebih berada dibawah. Di sekitar bidang
front inilah sering terjadi hujan lebat yang disebut hujan frontal.hujan muson
atau hujan musiman, yaitu hujan yang terjai karena angun musim (angin muson).
Penyebab terjadinya angin muson adalah karena adanya pergerakan semu tahunan
matahari antara garis balik utara dan garis balik selatan. Di Indonesia, hujan
muson terjadi bulan oktober sampai april. Sementara di kawasan asia timur
terjadi bulan mei sampai agustus. Siklus muson inilah yang menyebabkan adanya
musim penghujan dan musim kemarau.
Jenis-jenis hujan berdasarkan ukuran butirnya: huajn gerimis/drizzle, diameter
butirannya kurang dari 0,5mm. Hujan salju terdiri dari Kristal-kristal es yang
suhunya berada dibawah 0o celsisus. Hujan batu es, curahan batu es yang turun
dalam cuaca panas dari awan yang suhunya dibawah 0o celsisus. Hujan
deras/rain,curahan air yang turun dari awan dengan suhu diatas 0o celsisus
dengan diemeter 7mm.
1.2 Tujuan
Tujuan dari praktium ini adalah untuk
mengetahui curah hujan di suatu daerah dan mengetahui cara penggunaan alat
pengukur curah hujan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Curah Hujan
Hidrologi adalah ilmu yang berkaitan dengan air
di bumi, terjadinya peredaran dan agihannya, sifat-sifat kimia dan fisiknya,
dan reaksi dengan lingkungannya, termasuk hubungannya dengan makhluk hidup
(internatial Glossary of hidrology, 1974) (EsinSeyhan,1990).
Karena
perkembangan yang ada maka ilmu hidrologi telah berkembang menjadi ilmu yang
mempelajari siklus air. Jadi dapat dikatakan, hidrologi adalah ilmu yang
mempelajari: presipitsai (precipitation), evaporasi (evaporation), aliran
permukaan (surface stream flow), dan air tanah (groun water) (EsinSeyhan,1990).
Pada prisipnya, jumlah
air di alam ini tetap dan mengikuti suatu aliran yang dinamakan “siklus
hidrologi”. Siklus hidrologi adalah suatu proses yang berkaitan, dimana air
diangkut dari lautan ke atmosfer (udara), ke darat dan kembali lagi ke laut.
Hujan jatuh ke bumi baik langsung maupun melalui
media misalnya ,elalui tanaman (vegetasi). Di bumi air mengalir dan bergerak
dengan berbagai cara. Pada retensi (tempat penyimpanan) air akan menetap untuk
beberapa waktu. Retensi dapat berupa retensi alam seperti daerah-daerah
cekungan,danau tempat-tempat yang rendah,dll. Maupun retensi buatan seperti
tampungan, sumur, embung, waduk,dll (Anonim,2011).
Secara gravitasi (alami)
air mengalir dari daerah yang tinggi ke daerah yang rendah, sampai ke daerah
pantai dan akhirnya akan bermuara ke laut.aliran ini disebut aliran permukaan
tanah karena bergerak di atas permukaan tanah. Aliran ini biasanya akan
memasuki daerah tangkapan atau daerah aliran menuju ke system jaringan sungai,
system danau atau waduk. Dalam sistem sungai aliran mengalir mulai dari sistem
sungai kecik ke system sungai besar dan akhirnya menuju mulut sungai atau
sering disebut estuary yaitu tempat bertemunya sungai dengan laut. (Anonim,2011)
Air hujan sebagian meresap
ke dalam kedalam tanah atau yang sering disebut dengan infiltrasi, dan bergerak
terus kebawah. Air hujan yang jatuh ke bumi sebagian menguap (evaporasi dan
transpirasi) dan membentuk uap air. Sebagian lagi mengalir masuk kedalam tanah
(infiltrasi, perkolasi, kapiler). Air tanah adalah air yang bergerak didalam
tanah yang terdapat didalam ruang-ruang antara butir-butir tanah dan di dalam
retak-retak dari batuan. Dahulu disebut air lapisan dan yang terakhir disebut
air celah (fissure water). Aliran air tanah dapat dibedakan menjadi aliran
tanah dangkal, aliran tanah antara dan aliran dasar (base flow). Disebut aliran
dasar karena aliran ini merupakan aliran yang mengisi system jaringan sungai.
Hal ini dapat dilihat pada musim kemarau, ketika hujan tidak turun untuk
beberapa waktu, pada suatu system sungai tertentu aliran masih tetap dan
kontinyu. Sebagian air yang tersimpan sebagai air tanah (groundwater) yang akan
keluar ke permukaan tanah sebagai limpasan permukaan (surface runoff) yang
terkumpul di sungai yang akhirnya akan mengalir ke laut kembali terjadi
penguapan dan begitu seterusnya mengikuti siklus hidrologi. (Anonim,2011)
Penyimpanan air tanah besarnya tergantung dari
kondisi geologi setempat dan waktu. Kondisi tata guna lahan juga berpengaruh
terhadap tampungan air tanah, misalnya lahan hutan yang beralih fungsi menjadi
daerah pemukiman dan curah hujan daerah tersebut. Sebagai permulaan dari
simulasi herus ditentukan penyimpangan awal (initial storage).
Hujan jatuh ke bumi baik secara langsung maupun
melalui media misalnya melalui tanaman (vegetasi), masuk ke tanah begitu juga
hujan yang terinfiltrasi. Sedangkan air yang tidak terinfiltrasi yang merupakan
limpasan mengalir ke tempat yang lebih rendah, mengalir ke danau dan
tertampung. Dan hujan yang langsung jatuh di atas sebuah danau (reservoir) air
hujan (presipitasi) yang langsung jatuh di atas danau menjadi tampungan
langsung. Air yang tertahan di danau akan mengalir melalui system jaringan
sungai, permukaan tanah (akibat debit banjir) dan merembes melalui tanah. Dalam
hal ini air yang tertampung di danau adalah inflow sedangkan yang mengalir atau
merembes adalah outflow.
Kebutuhan air tanaman (crop water requirement)
didefinisikan sebagai banyaknya air yang hilang dari areal pertanaman setiap
satuan luas dan satuan waktu, yang digunakan untuk pertumbuhan, perkembangan
(transpirasi) dan dievaporasikan dari permukaan tanah dan tanaman. Kebutuhan
air tanaman adalah transporasi. Evapotranspirasi dipengaruhi oleh kadar
kelembaban tanah, suhu udara, cahaya matahari, dan angin. Evapotranspirasi
dapat ditentukan dengan cara, yaitu (1) menghitung jumlah air yang hilang dari
tanah dalam jangka waktu tertentu, (2) menggunakan factor-faktor iklim yang
mempengaruhi evapotranspirasi, (3) menggunakan Iysimeter (Hasan Basri Jumin,
2002).
Kedua alat penakar hujan
otomatis diletakkan pada tempat terbuka. Jarak
antara penakar hujan 150 meter dari tempat penelitian. Kedua tipping bucket
berada pada ketinggian 15 meter dari permukaan tanah. Tipping bucket
dihubungkan dengan sebuah data logger (Delta-T Devices
Ltd.,Cambridge,UK) dengan interval 5 menit untuk mendapatkan data secara terus
menerus. Sebuah corong dan jerigen berukuran 65 Liter ditempatkan pada daerah
yang terbuka, dengan ketinggian 1 meter diatas permukaan tanah, dan bersudut
tidak lebih dari 45 derajat dari tajuk pada plot penelitian. Untuk setiap
kejadian hujan, pencatatan dilakukan setiap hari dari pukul 08.00 pagi hingga
selesai. Apabila pada pukul tersebut masih terjadi hujan, maka pencatatan
dilakukan setelah hujan benar-benar berhenti (Anonim, 2010)
Pada alat penakar manual, untuk mendapatkan data curah hujan dalam
satuan milimeter, dilakukan perhitungan dengan menggunakan persamaan curah
hujan kotor (Pg). Intersepsi diperkirakan dari hasil pengukuran hujan di tempat
yang terbuka ( Gross Presipitation / Pg ), Air lolos ( Troughfall / Tf ), dan
Aliran Batang ( Steamflow / Sf ). Selisih antara curah hujan di tempat terbuka,
air lolos, dan aliran batang merupakan besaran intersepsi hujan ( Ic ).
Pemilihan vegetasi yang digunakan untuk mengukur aliran batang pada plot
penelitian berdasarkan kelas diameter batang pohon. Pemilihan tersebut
berdasarkan diameter pohon diatas 10 cm (Anonim, 2008)
Curah hujan yaitu jumlah air hujan yang turun pada suatu daerah
dalam waktu tertentu. Alat untuk mengukur banyaknya curah hujan disebut Rain
gauge. Curah hujan diukur dad lam harian, bulanan, dan tahunan. Curah hujan
yang jatuh di wilayah Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain
adalah bentuk medan/topografi, arah lereng medan, arah angin yang sejajar
dengan garis pantai dan jarak perjalanan angina diatas medan datar. Hujan merupakan
peristiwa sampainya air dalam bentuk cair maupun padat yang dicurahkan dari
atmosfer ke permukaan bumi (Handoko, 2003).
Hujan yang jatuh ke bumi baik langsung menjadi
aliran maupun tidak langsung yaitu melalui vegetasi atau media lainnya akan membentuk
siklus aliran air mulai dari tempat tinggi (gunung, pegunungan) menuju ke
tempat yang rendah baik di permukaan tanah maupun di dalam tanah yang berakhir
di laut (Anonim,2011).
Peranan air dalam kehidupan sngat besar.
Mekanisme kompleks kehidupan tidak mungkin berfungsi tanpa kehadiran air.
Bagian terbesar bumi dan makhluk hidup juga terdiri air. Air yang berasal dari
hujan merpakan fenomena alam yang paling penting bagi terjadinya kehidupan di
bumi. Butiran hujan selain membawa molekul air juga membawa materi yang penting
bagi kehidupan seperti pupuk bagi tumbuhan. Mesikpun air hujan sangat penting
bagi kehidupan. Namun, di pihak lain Indonesia belum mampu mengamati fenomena
banyaknya curah hujan yang terjadi pada suatu tempat secara otomatis dan tercatat
pada database. Akibatnya data curah hujan tidak dapat di manfaatkan.
(Anonim,2011)
a. Sifat Hujan
Sifat hujan adalah perbandingan antara jumlah curah hujan yang terjadi selama
satu bulan dengan nilai rata-rata atau normal dari bulan tersebut di suatu
tempat. Sifat hujan dibagi menjadi 3 kriteria, yaitu:
1.
Atas normal (A)
Jika nilai perbandingan terhadap rata-rata
lebih besar dari 115%.
2.
Normal (N)
Jika nilai perbandingan terhadap rata-rata antara 85%-115%.
3.
Bawah normal (BN)
Jika nilai perbandingan terhadap rata-rata kurang dari 85%.(Anonim,2011)
b. Normal curah hujan
1. Rata-rata
Curah Hujan Bulanan
Rata-rata Curah Hujan
Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing- masing bulan dengan periode minimal 10
tahun.
2. Normal
Curah Hujan Bulanan
Normal Curah Hujan
Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing- masing bulan selama periode 30 tahun.
3. Standar
Normal Curah Hujan Bulanan
Standar Normal Curah
Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30
tahun, dimulai dari tahun 1901 s/d 1930, 1931 s/d 1960, 1961 s/d 1990 dan
seterusnya.
Curah hujan di hitung harian, mingguan, hingga
tahunan, sesuai dengan kebuuhan. Pembangunan saluran drainase, selokan,
irigasi, serta pengendalian banjir selalu menggunakan data curah hujan ini,
untuk mengetahui berapa jumlah hujan yang pernah terjadi di suau tempat,
sebagai perkiraan pembuatan besarnya saluran atau sarana pendukung lainnya saat
hujan sebesar itu akan datang lagi dimasa mendatang(Bocah,2008).
Alat pengukur curah hujan merupakan alat untuk
mengukur curah hujan yang terjadi pada suatu daerah baik pedesaan, kecamatan,
atau provinsi mengacu pada WMO (World Meterological Organization). Dengan
adanya alat pengukur curah hujan dapat diketahui banyaknya curah hujan yang
terjadi setiap waktu. Data curah hujan dihasilkan otomatis dari alat pengukur
curah hujan disimpan secara real-time dengan menggunakan aplikasi berbasis
open-source seperti java dan system operasi IGOS (Edi Tanoe,2011)
2.2 Alat- Alat BMKG
2.2.1
Penakar Hujan Observatorium Dan Penakar Hujan Hellman
Penakar huajn Observatorium
mempunyai corong dengan luas tamping 100 cm2. Pada corong dipasang
ring yang tepinya dibuat seruncing mungkin dengan maksud untuk mendapatkan luas
bidang tamping setepat mungkin. Air hujan masuk ke selinder penampung air hujan
melalui corong dengan sudut berbanding curam lebih kurang 300,
maksudnya adalah untuk menghindari percikan air keluar. Bagian ujung corong
disambung dengan pipa tembaga berukuran ¼ dengan panjang lebih kurang 7 cm
untuk menghindari terjadinya penguapan. Air dikeluarkan melalui kran yang
dihubungkan dengan pipa kesilinder penampung air hujan.
Penakar hujan hellman mempunyai luas
bidang corong penampung curah hujan 200 cm2 . Air hujan masuk ke
reservouir yang dihubungkan dengan pipa. Didalam reservoir ditempatkan
pelampung, pada saat air masuk kedalam reservoir, pelampung akan terangkat dan
pada pelampung dipasang tangkai pena yang mencatat pada kertas pias yang
ditempelkan pada silinder yang diputar oleh jam. Bekerjanya penakar hujan ini
apabila air yang tertampung dalam reservoir telah mencapai setara dengan tinggi
curah hujan 10 mm, maka air dalam reservoir akan tumpah secara otomatis melalui
pipa pindah (sifon) dipasang pada reservoir dan pena akan kembali lagi ke angka
nol. Air yang tumpah melaui pipa sifon ditampung dalam sebuah bejana , untuk
selanjutnya ditakar kembali sebagai penteraan apakah yang tercatat pada pias
sama dengan yang ditajar dengan gelas ukur khusus hellman.
2.2.2 chambels tub
Chambels
tub merupakan alat yang di gunakan oleh para pengamat cuaca sebagai alat
pengukur lamanya cahaya matahari di suatu lkasi yang ingin di telitinya.
Penggunaan alat ini yaitu dengan menghitung lamanya penyinaran matahari dari
pukul 08.00 pagi sampai sampai pukul 4 sore,namun itu dapat brubah tergantung
lamanya penyinaran di lokasi tersebut.
2.2.3 sikrometer (sangkar
meteorology )
Sikrometer
merupakan alat yang di gunakan pengamat cuaca sebagai pengukur kelembapan
cahaya yang berfungsi mengukukur suhu kelembapan cahaya, prinsip kerja dari
sikromeer yaitu dengan ventilasi yang di cat putih yang bertujuan untuk
sirkulasi udara agar dapat berjalan baik dan pengukuran ini di baca setiap jam
10 pagi dan malam.
2.2.4 termometer tanah berumput dan
thermometer tanah gundul
Thermometer
ini di gunakan oleh para pengamat cuaca untuk mengukur suhu tanah pada
kedalaman tertentu, thermometer ini ada yang di letakkan di tanah yang tertutup
rumput dan ada yang di letakkan di tana yang gundul. Cara membaca alat ini
dengan melihat lapisan lilin yang ada di dalam alat, lapisan ini berfungsi
untuk mempermudah pembacaaan hasil pengukuran.
2.2.5 lisimeter
Lisimeter
merupakan alat yang di gunakan oleh pengamat cuaca untuk mengukur penguapan
dalam tanah, lisimeter di amati setiap jam 5 sore dengan cara di sedot kemudian
disiram lagi sebanyak 10 liter lalu dilihat berapa air yang tertinggal untuk
mengukur penguapan.
2.2.6 AAWS (automatic agroclimat
water station)
AAWS
merupakan alat yang di gunakan untuk mengetahui semua data pengukuran arah
kecepatan angin , alat ini biasanya di gunakan pada lama data yang terekam tiap
5 menit atau 10 menit.
2.2.7 Anemometer
Pada
umumnya angin diamati tenteng kecepatan dan arahnya. Anemometer terdiri dari
tiga atau empat cawan yang dibuat berbentuk kerucut dihubungkan oleh lengan
yang ditempelkan pada es. Pada umumnya anemometer dipasang pada tiang penyangga
terbuat dari besi atau bahan sejenis lainnya yang terpasang kokoh dan tegak
lurus. Alat ini dilengkapi dengan alat penghitung jumlah putaran (counter) yang
telah dikalibrasi dalam satuan Km atau mil perjam (1 mil = 1,85 km/jam).
2.2.8 aktinograf
Aktinograf
merupakan alat yang di gunakan oleh para pengamat cuaca untuk mengukur
intensitas cahaya matahar, pembacaan alat ini hanya di lakukan setiap sekali
seminggu yaitu di hari senin pagi di ganti plasnya dan membaca mengikuti garis.
2.2.9 Panci klas A,
micrometer pancing (hook gauge)
Panci
klas A berbentuk sebuah kancah yang berukuran garis tengah 120,7 cm dan tinggi
bibir panci 25,4 cm. alat terbuat dari stainless. Dudukan panci harus
betul-betul datar diatas tanah. Maka air didalam panci setelah pengukuran harus
selalu 5 cm dibawah bibir panci. Evaporasi tidak dapat diukur dengan panci
apabila turun hujan melebihi 50 mm.
Untuk mengukur tinggi maka air
dengan menggunakan micrometer yang bagian ujung nya dibuat seperti pancing
untuk memudahkan menentukan batas muka air dalam panci. Micrometer ini ditaroh
diatas tabung peredam dan tangkai pancing masuk kedalam air sedang ujung mata
pancing berada tepat pada permukaan air. Skala mm dibaca pada batang micrometer
dan skala seperseratus mm dibaca dari mur yang mengelilingi batang micrometer.
BAB
III
METODA
KERJA
3.1 WAKTU DAN TEMPAT
Praktikum
lapangan agroklimatologi di adakan pada
hari sabtu tanggal 11 oktober di BMKG Sicincin, pada pukul 08.00 WIB sd
02.00 WIB
3.2 Alat dan bahan
Pada
praktikum lapangan dalam rangka
kunjungan ke BMKG sicincin telah di perlihatkan alat alat yang berhubungan
dengan cara mengamati cuaca dan iklim yang terjadi baik di daerah sicincin saja
ataupun mencakup Sumatra barat.
alat-alat nya antara lain anemometer, aktinograf ,have sampler, gun belani, hellman, penangkar hujan biasa, chambels tub, sikrometer,thermometer tanah, lisimeter, dan AAWS
alat-alat nya antara lain anemometer, aktinograf ,have sampler, gun belani, hellman, penangkar hujan biasa, chambels tub, sikrometer,thermometer tanah, lisimeter, dan AAWS
3.3 cara kerja
Cara
kerja pada alat alat tersebut akan di jelaskan pada bab IV
BAB IV
HASIL DAN
PEMBAHASAN
4.1 HASIL
1. HAVE SAMPLER
2.
CAHAMBELS TUB
3.
PENANGKAR HUJAN BIASA
4.
PENANGKAR HUJAN HILMAN
5.
TERMOMETER TANAH BERUMPUT
6.
SIKROMETER
7.
TERMOMETER TANAH GUNDUL
8.
AKTINOGRAF
9.
AAWS
4.2 Metoda Kerja Alat-Alat BMKG
4.2.1
Penakar Hujan Observatorium Dan Penakar Hujan Hellman
Air hujan masuk ke selinder
penampung air hujan melalui corong dengan sudut berbanding curam lebih kurang
300, maksudnya adalah untuk menghindari percikan air keluar. Bagian
ujung corong disambung dengan pipa tembaga berukuran ¼ dengan panjang lebih
kurang 7 cm untuk menghindari terjadinya penguapan. Air dikeluarkan melalui
kran yang dihubungkan dengan pipa kesilinder penampung air hujan. Air hujan
masuk ke reservouir yang dihubungkan dengan pipa. Didalam reservoir ditempatkan
pelampung, pada saat air masuk kedalam reservoir, pelampung akan terangkat dan
pada pelampung dipasang tangkai pena yang mencatat pada kertas pias yang
ditempelkan pada silinder yang diputar oleh jam. Bekerjanya penakar hujan ini
apabila air yang tertampung dalam reservoir telah mencapai setara dengan tinggi
curah hujan 10 mm, maka air dalam reservoir akan tumpah secara otomatis melalui
pipa pindah (sifon) dipasang pada reservoir dan pena akan kembali lagi ke angka
nol. Air yang tumpah melaui pipa sifon ditampung dalam sebuah bejana , untuk
selanjutnya ditakar kembali sebagai penteraan apakah yang tercatat pada pias
sama dengan yang ditajar dengan gelas ukur khusus hellman.
4.2.2 chambels tub
Penggunaan alat ini yaitu dengan menghitung lamanya
penyinaran matahari dari pukul 08.00 pagi sampai sampai pukul 4 sore,namun itu
dapat brubah tergantung lamanya penyinaran di lokasi tersebut.
4.2.3 sikrometer (sangkar
meteorology )
Prinsip kerja dari sikromeer yaitu dengan ventilasi yang di
cat putih yang bertujuan untuk sirkulasi udara agar dapat berjalan baik dan
pengukuran ini di baca setiap jam 10 pagi dan malam.
4.2.4 termometer tanah berumput dan
thermometer tanah gundul
Cara membaca alat ini dengan melihat lapisan lilin yang ada
di dalam alat, lapisan ini berfungsi untuk mempermudah pembacaaan hasil
pengukuran.
4.2.5 lisimeter
Lisimeter di amati setiap jam 5 sore dengan cara di sedot
kemudian disiram lagi sebanyak 10 liter lalu dilihat berapa air yang tertinggal
untuk mengukur penguapan.
4.2.6 AAWS (automatic agroclimat
water station)
Alat ini biasanya di gunakan pada lama data yang terekam
tiap 5 menit atau 10 menit.
4.2.7 Anemometer
Pada
umumnya anemometer dipasang pada tiang penyangga terbuat dari besi atau bahan sejenis
lainnya yang terpasang kokoh dan tegak lurus. Alat ini dilengkapi dengan alat
penghitung jumlah putaran (counter) yang telah dikalibrasi dalam satuan Km atau
mil perjam (1 mil = 1,85 km/jam).
4.2.8 aktinograf
pembacaan alat ini hanya di lakukan setiap sekali seminggu
yaitu di hari senin pagi di ganti plasnya dan membaca mengikuti garis.
4.2.9 Panci klas A,
micrometer pancing (hook gauge)
Dudukan
panci harus betul-betul datar diatas tanah. Maka air didalam panci setelah
pengukuran harus selalu 5 cm dibawah bibir panci. Evaporasi tidak dapat diukur
dengan panci apabila turun hujan melebihi 50 mm.
Micrometer ini ditaroh diatas tabung
peredam dan tangkai pancing masuk kedalam air sedang ujung mata pancing berada
tepat pada permukaan air. Skala mm dibaca pada batang micrometer dan skala
seperseratus mm dibaca dari mur yang mengelilingi batang micrometer.
BAB IV
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Pada
praktikum kali ini dapat di simpulkan bahwa cara mengetahui cuaca dan iklim
pada suatu daerah mempunyai alat yang berbeda beda baik fungsi, bentuk dan cara
kerjanya. Data yang dihasilkan pun keakuratannya berbanding lurus dengan
tingkat keseriusan pengamat, apabila pengamat membuat data dengan teliti maka
kemungkinan besar data akan akurat.
5.2 SARAN
Pada
praktikum lapangan ke BMKG sicincin ini di harapkan kepada praktikan agar dapat
serius dalam mendengarkan penjelasan dari narasumber dan dapat menyerap
informasi yang di berikan oleh narasumber sehingga dapat memahami cara kerja
dan fungsi dari alat alat tersebut sesuai dengan penjelasan dari narasumber.
DAFTAR PUSTAKA
Diakses pada
tanggal 28 oktober 2014.
Anonim,
2010. Curah Hujan , www.wikipedia/hujan.menlh.go.id. Diakses pada
tanggal 28 oktober 2014.
Anonim,2011. Curah Hujan
, www.wikipedia/hujan.menlh.go.id. Diakses pada
tanggal 28 oktober 2014
Bocah,2008.
Curah hujan local. UGM press: yogyakarta
Edi Tanoe,2011. Alat
pengukur hujan. Laporan klimatologi dasar. Bogor
:FMIPA-IPB
EsinSeyhan,1990. Hidrologi Teknik. Jakarta:
Erlangga.
Handoko, 2003. Klimatologi
Dasar,
Bogor: FMIPA-IPB
Jumin
,Hasan Basri, 2002. Dasar-Dasar Agronomi,
Jakarta: PT. Rajagrafindo.